Jika berbicara tentang kuliner Minangkabau, pikiran kita segera tertuju pada rendang, gulai tunjang, dendeng balado, atau sambal ijo yang pedas menyengat. Namun, di antara lautan kuliner kaya rempah itu, ada satu hidangan yang justru hadir dengan kesederhanaan rasa: Ayam Pop.Hidangan ini bukan sekadar lauk pelengkap nasi Padang. Ia adalah penanda sejarah, buah kreativitas lokal, dan bukti bahwa kelezatan tidak selalu hadir lewat kepedasan atau rempah berlapis. Ayam Pop justru menonjol karena kelembutan daging ayamnya, rasa gurih kaldu, dan sambal tomat segar yang menjadi pasangan wajibnya.Bagi masyarakat Bukittinggi dan perantau Minang, Ayam Pop telah lama menjadi ikon. Tetapi banyak orang tidak tahu bahwa sejarah makanan ini berawal dari sebuah rumah makan sederhana bernama Famili, yang berlokasi di kawasan Benteng Fort de Kock, Bukittinggi. Dari sanalah Ayam Pop lahir, tumbuh, lalu menyebar ke seluruh Indonesia bersama arus rantau orang Minang. RM Family Benteng Indah: Ayam Pop Dijual di Sini Sejak Tahun 1947

Sejarah Ayam Pop: Dari Rumah Makan Famili

Sekitar pertengahan abad ke-20, Bukittinggi mulai tumbuh sebagai salah satu kota penting di Sumatera Barat. Kota ini bukan hanya pusat perdagangan dan pendidikan, melainkan juga tempat kelahiran ragam kuliner baru. Salah satunya adalah Ayam Pop. Kisah bermula dari Rumah Makan Famili, sebuah usaha keluarga yang berada tidak jauh dari kawasan wisata bersejarah Benteng Fort de Kock. Pemilik rumah makan ini, dengan kecerdikan dan naluri bisnis, berusaha menciptakan menu berbeda dari gulai dan rendang yang saat itu mendominasi. Ide dasarnya sederhana: bagaimana menyajikan ayam dengan cita rasa ringan, cocok bagi wisatawan, namun tetap mengandung identitas Minang.

Ayam Pop

Jika berbicara tentang kuliner Minangkabau, pikiran kita segera tertuju pada rendang, gulai tunjang, dendeng balado, atau sambal ijo yang pedas menyengat. Namun, di antara lautan kuliner kaya rempah itu, ada satu hidangan yang justru hadir dengan kesederhanaan rasa: Ayam Pop. Hidangan ini bukan sekadar lauk pelengkap nasi Padang. Ia adalah penanda sejarah, buah kreativitas lokal, dan bukti bahwa kelezatan tidak selalu hadir lewat kepedasan atau rempah berlapis. Ayam Pop justru menonjol karena kelembutan daging ayamnya, rasa gurih kaldu, dan sambal tomat segar yang menjadi pasangan wajibnya. Bagi masyarakat Bukittinggi dan perantau Minang, Ayam Pop telah lama menjadi ikon. Tetapi banyak orang tidak tahu bahwa sejarah makanan ini berawal dari sebuah rumah makan sederhana bernama Famili, yang berlokasi di kawasan Benteng Fort de Kock, Bukittinggi. Dari sanalah Ayam Pop lahir, tumbuh, lalu menyebar ke seluruh Indonesia bersama arus rantau orang Minang. Sudah Ada Sejak Tahun 1980, Rumah Makan Family Benteng Bukittinggi Tetap  Eksis di Tengah Gempuran Pesaing - Harian Haluan - Halaman 2

Sejarah Ayam Pop: Dari Rumah Makan Famili

Sekitar pertengahan abad ke-20, Bukittinggi mulai tumbuh sebagai salah satu kota penting di Sumatera Barat. Kota ini bukan hanya pusat perdagangan dan pendidikan, melainkan juga tempat kelahiran ragam kuliner baru. Salah satunya adalah Ayam Pop. Kisah bermula dari Rumah Makan Famili, sebuah usaha keluarga yang berada tidak jauh dari kawasan wisata bersejarah Benteng Fort de Kock. Pemilik rumah makan ini, dengan kecerdikan dan naluri bisnis, berusaha menciptakan menu berbeda dari gulai dan rendang yang saat itu mendominasi. Ide dasarnya sederhana: bagaimana menyajikan ayam dengan cita rasa ringan, cocok bagi wisatawan, namun tetap mengandung identitas Minang. Dari eksperimen dapur itulah lahir teknik memasak ayam dengan cara direbus menggunakan bumbu minimalis, kemudian digoreng sebentar agar tidak terlalu kering. Resep itu menghasilkan ayam dengan daging putih lembut, gurih alami, dan tidak menyengat rempah. Karena teksturnya yang lembut serta tampilannya yang pucat (berbeda dari ayam goreng kuning atau merah), masyarakat mulai menyebutnya Ayam Pop. Nama “Pop” sendiri masih diperdebatkan. Ada yang menyebutnya singkatan dari “popular” karena cepat terkenal, ada pula yang percaya istilah itu lahir dari bunyi minyak saat ayam putih itu digoreng sebentar. Apapun asal-usul namanya, Ayam Pop segera melejit sebagai menu khas Bukittinggi.

Ciri Khas Ayam Pop

  • Warna Putih Pucat: Daging ayam tidak berwarna cokelat keemasan seperti ayam goreng pada umumnya. Hal ini karena ayam direbus dahulu, kemudian hanya digoreng sebentar, tanpa baluran kunyit atau bumbu pewarna alami lain.
  • Tekstur Lembut: Ayam Pop biasanya memakai ayam kampung muda atau ayam negeri pilihan. Karena direbus lama dengan bumbu minimalis, serat dagingnya menjadi sangat empuk dan mudah lepas dari tulang.
  • Bumbu Minimalis, Rasa Maksimal: Berbeda dengan masakan Padang lain yang kaya rempah, Ayam Pop hanya memakai bawang putih, garam, dan kadang jahe atau lengkuas dalam rebusan. Kesederhanaan inilah yang justru menghadirkan rasa gurih alami ayam.
  • Pendamping Wajib: Sambal Tomat: Ayam Pop selalu ditemani sambal tomat pedas segar, biasanya dibuat dari cabai merah, tomat, bawang, dan sedikit minyak. Kombinasi pedas asam segar ini menjadi penyeimbang rasa ayam yang ringan.
  • Disajikan dengan Nasi Panas dan Daun Singkong: Ayam Pop tetap menjadi bagian dari satu piring nasi dengan sayur nangka, gulai daun singkong, dan kuah gulai khas rumah makan Padang.

Cara Membuat Ayam Pop

  1. Perebusan Ayam
    • Ayam kampung muda dipotong sesuai ukuran porsi.
    • Direbus dalam air bersama bawang putih, garam, daun salam, dan sedikit lengkuas.
    • Perebusan berlangsung lama, hingga ayam empuk namun tidak hancur.
    • Air rebusan ini menjadi kaldu dasar yang harum.
  2. Penggorengan Singkat
    • Ayam yang sudah direbus diangkat, ditiriskan.
    • Minyak dipanaskan, lalu ayam dimasukkan hanya sebentar.
    • Tujuannya sekadar memberi aroma minyak dan menjaga tekstur.
  3. Penyajian
    • Ayam pop disajikan bersama nasi panas, sambal tomat, gulai sayur nangka, dan daun singkong rebus.
    • Di beberapa rumah makan, kaldu hasil rebusan ayam juga disajikan sebagai pelengkap.

Ayam Pop Famili vs Ayam Pop di Perantauan

Banyak orang mengaku pernah makan Ayam Pop di rumah makan Padang di Jakarta, Surabaya, Medan, atau bahkan di luar negeri. Namun, rasa Ayam Pop asli di Rumah Makan Famili Bukittinggi tetap dianggap tak tergantikan. Mengapa?
  • Teknik Perebusan Khas: Di Famili, ayam direbus dalam belanga besar dengan resep turun-temurun.
  • Pilihan Ayam: Selalu memakai ayam kampung muda yang lebih gurih. Di rantau, banyak memakai ayam negeri.
  • Sambal Tomat: Di Famili lebih segar dan dominan tomat, sedangkan di rantau sering lebih pedas dan bercampur terasi.
  • Suasana: Menyantap Ayam Pop di Famili disertai nuansa Bukittinggi yang sejuk dan penuh sejarah.

Ayam Pop dan Identitas Kuliner Minang

Ayam Pop adalah contoh nyata kuliner Minang yang beradaptasi. Berbeda dari rendang dan gulai yang pekat rempah, Ayam Pop justru sederhana, ringan, dan mudah diterima semua lidah.

Perjalanan Ayam Pop ke Nusantara

Pada 1970–1980-an, rumah makan Padang di kota besar mulai memasukkan Ayam Pop ke menu. Variasi muncul di Jakarta, Medan, hingga Bali, namun keaslian rasanya tetap paling kuat di Bukittinggi.

Membandingkan dengan Lauk Minang Lain

Jika rendang melambangkan kekayaan rempah, dendeng balado melambangkan pedas, dan gulai melambangkan kuah santan kental, maka Ayam Pop melambangkan kelembutan dan kesederhanaan.

Wisata Kuliner ke Bukittinggi

Berkunjung ke Bukittinggi tak lengkap tanpa menikmati Ayam Pop Famili. Letaknya dekat Benteng Fort de Kock, serta dekat destinasi wisata lain seperti Jam Gadang, Pasar Atas, dan Ngarai Sianok.

Penutup

Ayam Pop adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa menjadi keistimewaan. Dari Rumah Makan Famili Bukittinggi, lahirlah hidangan yang kini dikenal di seluruh Indonesia. Meski kini bisa ditemukan di banyak tempat, Ayam Pop asli Famili tetap menjadi legenda, bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal suasana, sejarah, dan identitas Minangkabau.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *